`

Hati-hati!! Kosmetik Oplosan Picu Kanker Kulit

Hati-hati!! Kosmetik Oplosan Picu Kanker Kulit dr Agnes menerangkan bahaya kosmetik oplosan

STV.CO.ID, Samarinda – Kaum wanita patut berhati-hati dalam membeli produk kosmetik kecantikan, terutama sejumlah produk yang menjanjikan komsumennya untuk memberikan hasil yang instan.

Hal yang wajar bila tiap wanita mendambakan tubuh yang ideal dan bersih, terutama mendapatkan kulit putih dan mulus. Tetapi, kaum wanita harus waspada dengan sejumlah produk kosmetik yang beredar di pasaran secara bebas, terutama produk yang tanpa izin edar dari BPOM. 

Pasalnya, dari bahan-bahan yang dicampur secara bebas tanpa ada takaran yang tepat, dapat membentuk senyawa baru yang memberikan dampak buruk bagi penggunanya, terutama penggunaan dalam jangka panjang. Hal ini dapat memicu kanker kulit dan stretch mark, merah, bersisik, dan lebih gelap, yang biasanya timbul di bagian paha maupun perut. Baru-baru ini, Samarinda dihebohkan dengan tertangkapnya seorang wanita berinisial YP (25) yang kedapatan membuat bisnis handbody dan lulur oplosan. Kosmetik racikan tersebut ia pasarkan secara bebas di jejaring media sosial Instagram, dengan akun bernama @yunitalotion.

Dari tangan YP, puluhan bahan handbody dan lulur oplosan disita petugas. Pelaku mengaku telah melakoni usaha ini selama 4 tahun, dan mendapatkan hasil Rp 2,5 juta hingga Rp 3,5 juta setiap bulannya dari produk berbahaya yang ia racik di kediamannya. “Semua bahan saya campur, untuk takarannya saya kira-kira sendiri,” tutur YP.

YP tidak memperdulikan ancaman penyakit berbahaya akibat penggunaan kosmetik oplosan tersebut. Penyakit kulit adalah efek yang paling sering dialami sejumlah pengguna kosmetik ilegal. Demi mendapatkan hasil memuaskan, cepat, dan murah, kosmetik yang tak jelas pembuatannya menjadi pilihan mereka, namun ancaman kanker kulit mengintip nyawa mereka menunggu kesempatan.

dr Agnes Kartini, Dokter Ahli Kulit dan Kelamin RSUD AW Sjahranie menuturkan, pengunaan bahan tanpa ada takaran yang jelas dapat memicu berbagai penyakit, namun paling banyak menyerang yakni kanker kulit. “Banyak jenis penyakit yang akan timbul, kalau dia bilang tidak ada yang protes, tidak mungkin komsumen protes ke pedagang. Biasanya mereka langsung datang ke dokter, entah itu dokter umum atau spesialis kecantikan,“ tutur dr Agnes.

“Contohnya penggunaan handbody yang berbahaya, biasanya memberikan efek bulu menjadi banyak, kulit jadi merah dan gelap. Itu salah satu efek pemutih, yang mengandung hidrokinon, dengan dosis tinggi, dan dipakai dengan jarak waktu yang panjang. Hidrokinon fungsinya whitening, namun belakang ini pemakaian hidrokinon jangka panjang dengan dosis tinggi 4-5 persen, efeknya malah terbalik,  membuat kulit gelap lalu menjadi hitam,” tambahnya.

Di tingkat rendah, penggunaan kosmetik ilegal, terutama produk handbody dapat berdampak merusak sel-sel kulit dan membuat kulit tidak bisa melindung secara alami. 

“Sesuatu itu harus ada takarannya, tidak asal campur-campur saja. Ada juga sebagian yang memberikan efek sampingnya cepat, pemakaian seminggu langsung putih, tapi lama kelamaan akan menjadi hitam. Nah, kalau sudah begitu mereka baru larinya ke dokter kulit,” imbuhnya. (la)

Penulis: Redaksi STV.CO.ID

Artikel Terkait