`

Ini Klarifikasi Ormas Terkait Pelang di Gedung Pemerintah

Ini Klarifikasi Ormas Terkait Pelang di Gedung Pemerintah Pengurus DPADKB-KT

STV.CO.ID, Samarinda – Beberapa waktu lalu ramai diperbincangkan pelang yang terpasang di Tourism Information Center (TIC) Samarinda, yang bertuliskan Sekretariat Dewan Pertahanan Adat Dayak Kutai Banjar Provinsi Kaltim (DPADKB-KT) dan Sekretariat Panitia Pelaksana Pembangunan Kawasan Terpadu Budaya Nasional (KTBN). 

Setelah simpang siur apa sebenarnya fungsi dari sekretariat tersebut, Yahya Alatas Ubay, Ketua Umum DPADKB-KT akhirnya angkat bicara mengenai hal ini. Saat ditemui STV, Sabtu (7/9/2019), ia menjelaskan kantor sekretariat ini merupakan bentuk kontribusi yang diberikan oleh Pemkot Samarinda terhadap program utama DPADKB-KT yaitu pembangunan KTBN di Kaltim. Pembangunan KTBN yang akan mengikuti konsep Taman Mini Indonesia Indah ini rencananya akan dibangun di lahan milik DPADKB-KT.

“Adapun lahan yang sudah kita siapkan itu dari aset lembaga kami sendiri seluas 66,16 hektare, yang berada di lokasi PT Lana Harita Indonesia. Kami juga mendapat saran dari gubernur sebagai pembina sekaligus pengawas kami, dalam rencana pembangunan ini disarankan menjadi salah satu miniatur Kaltim,” jelasnya.

Lamin Budaya Kalimantan Timur atau Kawasan Terpadu Budaya Nasional (KTBN) merupakan wadah berhimpun dan wadah berkoordinasi semua etnis dan budayawan. Tidak hanya dari suku asli Kalimantan Timur namun juga suku dari provinsi lain. Peran Dewan Pertahanan Adat Dayak Kutai Banjar, dalam pembangunan ini sebagai pelopor sekaligus penyedia lahan. 

Hal inilah yang menjadi salah satu alasan DPADKB-KT mengajukan permintaan fasilitas sekretariat panitia, untuk memudahkan koordinasi dengan pemerintah provinsi dan kota. Herman Jalung, Ketua Panitia Pembangunan KTBN mengatakan, pengajuan surat kepada pemerintah kota agar difasilitasi sudah lama dikirim ke wali kota. Dari hasil pengajuan surat tersebut diperoleh hasil, sekretariat kepanitiaan ini dapat menggunakan bangunan Museum Samarinda.

“Tetapi setelah kami konfirmasi dengan dinas kebudayaan ternyata tidak bisa digunakan sebagai tempat latihan tari dan juga kondisinya yang belum layak untuk digunakan. Setelah itu kami konfirmasi ulang ke pemkot, dimana tempat yang bisa kami pinjam untuk sekretariat kepanitiaan,” ujarnya.

Sementara itu, soal pemasangan pelang di TIC, Herman menyebut hal ini hanyalah misskomunikasi saja. Karena pengelolaan TIC bukan di bawah Dinas Kebudayaan, melainkan Dinas Pariwisata. “Kami pasang pelang di sini (TIC) karena di kawasan museum hanya gedung ini yang tidak terpakai, ini miskomunikasi saja. Hasil pertemuan kami dengan wakil wali kota saat ini kami sudah dipinjamkan ruangan di lantai empat Dinas Kebudayaan,”ungkapnya. (fan)

Penulis: Redaksi STV.CO.ID

Artikel Terkait