`

Kembalikan Muruah, Kesultanan Kutai Gelar Erau Secara Mandiri

Kembalikan Muruah, Kesultanan Kutai Gelar Erau Secara Mandiri Prosesi Mendirikan Tiang Ayu, Tanda Pesta Adat Erau Dimulai

STV.CO.ID, Kutai Kartanegara – Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Aji Muhammad Arifin memasuki ruangan. Ia berjalan perlahan diiringi alunan instrumen gamelan, menuju tiang ayu yang direbahkan di atas alas kasur berwarna kuning menghadap singgasana sultan. Setelah sultan berdiri menghadap tiang ayu, kemudian tiang ayu diangkat oleh beberapa orang di antaranya Isran Noor Gubernur Kaltim, Edi Damansyah Bupati Kukar, beserta kerabat keraton.

Pendirian tiang ayu ini menjadi perlambang untuk memohon agar dijauhkan dari bahaya dan roh jahat yang berniat mengganggu pelaksanaan pesta adat Erau. Selain itu juga menjadi simbol dimulainya pesta adat Erau. 

Usai melaksanakan pembukaan Erau, Sultan Kutai Aji Muhammad Arifin mengatakan Erau merupakan pesta rakyat. Sehingga, dengan dilaksanakannya Erau tahun ini, ia berharap memberi manfaat bagi masyarakat di Kutai Kartanegara. “Erau ini adalah pesta rakyat, semoga berkah terutama yang ekonomi menengah,” ujarnya.

Ketua Panitia Erau, Awang Yakoub Luthman mengatakan, muruah Erau tahun ini telah dikembalikan oleh Kesultanan Kutai. Pelaksanaannya diserahkan penuh kepada pihak kesultanan, setelah bertahun-tahun menjadi bagian kegiatan Pemkab Kukar yang digabung dengan International Folk Art Festival. “Sekarang kita sebagai pelaksana, dan pemerintah sebagai pendukung,” ungkapnya.

Awang Yacoub mengaku, tidak ada yang salah jika Erau digabung dengan festival internasional, namun dengan masuknya tarian internasional, menenggelamkan tarian lokal. Menurutnya tarian lokal yang perlu diinternasionalkan. Sehingga, saat ini pihaknya menyediakan panggung untuk tarian lokal di halaman Kedaton Kutai Kartanegara Ing Martadipura. “sekarang di kedaton kita buat panggung yang representatif, yang insyaAllah akan go internasional,” ujarnya.

Sementara itu, Edi Damansyah, Bupati Kukar mengatakan, pesta adat Erau ini masuk dalam kalender nasional dan menjadi ajang populer yang sudah ditetapkan Kementerian Pariwisata RI. Menurutnya, ini kali pertama Erau dipisah dengan Tenggarong International Folk Art Festival (TIFAF).

“Erau ini dilaksanakan tersendiri, nanti setelah ini tanggal 21 kita laksanakan Tenggarong Internasional Folk Art Festival, ini rangkaian juga dalam rangka ulang tahun Tenggarong. Rangkaian ini semua bagaimana menjaga tradisi seni budaya di Kutai Kartanegara. Tujuan akhirnya, seni budaya ini bisa dilestarikan dan bisa menjadi destinasi wisata” terang Edi.

Isran Noor, Gubernur Kaltim menyampaikan, Erau ini sangat penting sebagai upaya melestarikan adat istiadat budaya yang ada di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Menurutnya seluruh budaya di Indonesia pun penting untuk dilestarikan dan dipertahankan. “Sangat penting, karena itu merupakan upaya melestarikan budaya di Kutai Kartanegara,” tegas Isran.

Terkait dipisahnya pesta adat Erau dengan festival seni internasional, ia mengatakan ini jadi bahan pertimbangan supaya nilai sakral dari tradisi leluhur tetap terjaga. “Kalau digabung malah nggak jelas, bukan persoalan ramai atau tidak ramainya, tapi nilai sakralnya yang kita pisahkan,” katanya.

Rangkaian pesta adat Erau ini dilaksanakan hingga tanggal 15 September mendatang, dengan lokasi pelaksanaannya di sekitar lingkungan Kedaton Kutai Kartanegara Ing Martadipura. (fdl)

Penulis: Redaksi STV.CO.ID

Artikel Terkait