`

Kisah Tegar Difabel Merawat Istrinya yang Menderita Kanker Usus Stadium IV

Kisah Tegar Difabel Merawat Istrinya yang Menderita Kanker Usus Stadium IV Ilham dan Siti pasangan suami istri difabel

 

STV.CO.ID, Samarinda – Muhammad Ilham namanya. Pria paruh baya itu tengah sibuk membersihkan sisa makan siang menggunakan tangan kanannya. Tangan satu-satunya yang bisa ia gunakan untuk beraktivitas. Itu pun jemarinya tidak selengkap jari orang normal.

Ruang itu ditempati enam pasien rawat inap. Ranjang single bed disusun berhadap-hadapan dan menyisakan ruang berlalu-lalang di tengah. Sisi-sisinya untuk mereka yang menunggui atau sekedar membesuk.

Sebelumnya, reporter STV sudah terhubung melalui pesan singkat messenger Facebook dengan Ilham untuk bertemu. Selasa siang (3/9/2019) pukul 11.39 Wita, berbekal nama dan nomor ruang, STV tidak kesulitan menemukannya. Di dalam ruang perawatan, pria paruh baya dengan postur tubuh hanya sepinggang lelaki dewasa itu tengah membersihkan bekas makan siangnya.

Muhammad Ilham (52) dan Siti Maimunah (42) adalah pasangan suami istri yang terikat janji suci pada 9 Oktober 2015 silam. Keduanya adalah penyandang disabilitas. Ilham terlahir dengan kedua kaki dan tangan tidak sempurna. Sedangkan Siti, sejak umur tiga tahun mengalami kelumpuhan karena polio.

Awal pernikahan, hidup Ilham berjalan normal, meski dengan segala keterbatasan. Dia tidak putus asa untuk menafkahi keluarga yang menjadi tanggung jawabnya. Sedang Siti, memiliki keahlian menjahit sehingga dapat membantu pemasukan keluarga. Sampai akhirnya hari-hari Ilham berubah drastis. Dia tidak bisa beraktivitas seperti dulu lagi. Ia harus selalu mendampingi Siti setiap saat.

Menurut penuturan Ilham, awalnya Siti, oleh dokter salah satu rumah sakit di Balikpapan, divonis tengah mengidap tumor. Tumor tumbuh sepanjang lima belas sentimeter di bagian usus sampai anus. Hal itu diketahui setelah Siti mengeluh sakit muntaber. Oleh dokter di Balikpapan, Siti direkomendasikan untuk melakukan operasi pengangkatan tumor. Namun, ditolak oleh keluarga, karena akan menyulitkan Siti saat buang air besar, apalagi ia adalah pengguna kursi roda.

“Jadi kalau tumornya dibuang, anusnya juga harus dibuang. Dan untuk BAB harus dibikinkan di perut, sedangkan istri saya polio, pengguna kursi roda. Tidak mungkin ada pembuangan di perut, untuk membersihkan pasti akan menyulitkan,” beber Ilham saat disambangi STV di ruang Flamboyan, RSUD Abdul Wahab Sjahranie, Selasa (3/9/2019).

Bermacam usaha Ilham lakukan demi kesembuhan Siti, dari mengonsumsi obat-obatan herbal hingga berobat ke klinik alternatif. Ilham tak patah arang untuk berikhtiar. Dia sampai memboyong Siti pindah ke Anggana, Kutai Kartanegara, di akhir tahun 2018.

Ilham mendapat informasi ada pengobatan tradisional di daerah Sungai Mariam, Kecamatan Anggana. Tapi bukan kesembuhan yang didapatkan, kondisi Siti tambah memburuk. “Kita coba untuk tidak berhenti berikhitiar, dua bulan di sana tidak sembuh malah makin parah,” ucapnya.

Ilham menyampaikan, kondisi fisik Siti berubah makin memburuk selama dirawat di Anggana. Perut sampai ujung kaki Siti membengkak. Dia menduga itu terjadi karena metode penyembuhannya yang digunakan adalah dengan dipijat. “Setelah diobati di Anggana, diurut, langsung drastis (menurun kesehatannya) dan sakit bengkaknya,” tambah Ilham.

Dia pun menyerah dengan pengobatan alternatif yang tidak membawa hasil, malah memperburuk kondisi Siti. Ilham pun membawa pulang istrinya. Tidak kembali ke Balikpapan, Ilham mencoba kehidupan baru di Samarinda dengan mengontrak rumah petak di daerah Gerilya. Ilham masih berharap sang istri dapat sembuh seperti sediakala.

Kondisi Siti yang terus memburuk membuat Ilham membawa sang istri ke RSUD Abdul Wahab Sjahranie. Di rumah sakit, Ilham mendapat kabar buruk, Siti divonis menderita kanker usus stadium IV, Siti harus dikemoterapi.

“Karena untuk dilakukan operasi itu sudah tidak mungkin. Kondisi kanker dia sudah menjalar kemana-mana. Bahkan hasil CT Scan terakhir kemarin itu sudah ada sebagian kankernya yang naik ke liver (hati),” jelas Ilham.

Saat ini Siti sudah menjalani kemoterapi sembilan kali dari total enam belas kali kemoterapi, sesuai yang direkomendasikan oleh dokter. Kemoterapi dilakukan setiap dua pekan sekali, tergantung kondisi fisik Siti.

Untuk biaya pengobatan selama menjalani kemoterapi, Ilham bersyukur masih tercover BPJS. Tapi ia masih membutuhkan uluran tangan untuk biaya sehari-hari, karena selama mendampingi Siti berobat, Ilham tidak dapat bekerja.

Beruntung bagi Ilham mengenal Ihsan Setiawan. Ihsan adalah salah satu pengurus Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kaltim. Atas seizin Ilham, Ihsan membagikan tulisan tentang kawan sesama difabelnya itu ke salah satu grup di media sosial Facebook, Bubuhan Samarinda (Busam).

Postingan itu pun mengundang simpati banyak penghuni grup Busam. Doa kesembuhan dan dukungan untuk Ilham dan Siti memenuhi kolom komentar. Tidak hanya di jagat maya, dukungan juga datang ke dunia nyata. Silih berganti orang menjenguk ke ruangan Siti dirawat.

“Sampai ada yang datang dari Samarinda Seberang dan Loa Bakung. Alhamdulillah ada saja makanan-makanan dikasih,” ucap Ilham.

Sebelum membesuk dan meliput pasangan difabel Ilham dan Siti ini, tim STV terlebih dahulu mendapat informasi lewat pesan direct message di Instagram. Kami dikirimi tautan sebuah kampanye donasi melalui web crowdfunding Kitabisa.com dengan alamat tautan https://kitabisa.com/campaign/temanisiti.

Dikonfirmasi masalah pengumpulan donasi melalui kitabisa.com, Ilham membenarkan. “Iya betul. Itu sepupu ibu yang di Pangkal Pinang yang buat, karena dia niatnya membantu,” tutup Ilham. (tur)

 

 

Penulis: Redaksi STV.CO.ID

Artikel Terkait